Kearifan Kampung Naga

Kampung Naga terletak di tepi jalan Tasikmalaya - Garut, tepatnya di desa Neglasari, Kecamatan Salawu. Menghuni areal seluas 1,5 hektare di tepi kali Ciwulan yang memiliki hulu di gunung Cikuray. Menurut mang Cahyan, pemandu asli kelahiran kampung Naga, kampung ini memiliki pemimpin baik formal maupun informal. Kalau formal ada ketua RT, nah kalau informal (adat) ada Kuncen. Untuk menuju kampung Naga mulanya kita menuruni anak tangga berjumlah 440 dan di sinilah akhir jaringan listrik, karena penduduk kampung ini mempertahankan tidak memakai energi Listrik. 

Saat ini memiliki 113 rumah adat. Rumah adat umumnya rumah panggung terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Rumah umumnya terbagi menjadi empat bagian yaitu Dapur (dengan pintu berornamen anyaman bambu), ruang tamu (dengan pintu kayu, terkadang ada kacanya), ruang keluarga dan pabeasan (ruang menyimpan padi). Atap rumah terdiri dari dua lapis, lapis luar terbuat dari ijuk, sedangkan lapis dalam terbuat dari daun Honje (Kecombrang). Atap seperti ini dapat bertahan dari panas dan hujan selama 20 tahun. Penduduk kampung Naga umumnya masuk rumah dari pintu Dapur.  Dapur adalah tempat aktifitas utama keluarga. Meski terbuat dari kayu, mereka tak takut kebakaran karena desain unik tungku. Terbuat dari tanah dengan luas 1 meter persegi yang tahan panas. Lantai umumnya terbuat dari kayu atau bambu yang dipukul-pukul sehingga menjadi rata dan apabila sering diduduki akan semakin mengkilat.

ruang dapur
Siang itu kampung Naga tampak sepi, karena kaum bapak sedang pergi ke sawah. Memang secara demografi, penduduk kampung Naga umumnya berprofesi sebagai petani. Dan saat ini sedang musim tanam padi. 

Memasuki kampung Naga kita akan menemukan rumah panggung tunggal di tengah areal sawah, berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara hasil panen, karena kalau dibawa langsung ke lumbung memakan waktu lama dan jaraknya jauh.



Penduduk kampung Adat ini sangat memegang teguh ajaran leluhur (karuhun) salah satunya adalah menanam padi dengan serempak dua kali dalam satu tahun. Cara ini terbukti ampuh untuk mengusir hama tikus tanpa racun karena hama ini akan pergi atau mati ketika musim tanam tiba. Seperti memutus rantai makanan. Kearifan nyata yang telah dipraktekkan jauh sebelum diktat manajemen pertanian ditulis.


Sama denga kita 'orang modern', mereka juga makan nasi putih, bedanya nasi diperoleh dari  padi yang ditumbuk (bukan disosoh dengan mesin) sehingga masih mengandung lapisan luar butir padi yang kaya vitamin B dan E dan serat. Sementara orang modern hanya makan karbohidratnya. Satu lagi kearifan nyata yang telah dipraktekkan jauh sebelum  'orang modern' berlomba-lomba makan beras merah -karena masih ada vit B, E dan seratnya- ketimbang nasi putih.


Penduduk Kampung Naga memanfaatkan Kapulaga sebagai obat batuk. Kapulaga ini pohonnya seperti Lengkuas dan umbinya di dalam tanah, setelah dibersihkan  langsung dimakan. Sementara untuk obat panas mereka memanfaatkan Kangkung Bandung, mirip kangkung hanya daunnya lebih lebar dan tumbuh di darat.


Imah Patemon dan konter oleh2
Di belakang kampung Naga terdapat rumah yang dipagari dengan bambu. Ini adalah rumah keramat, hanya ketua adat saja yang dapat memasukinya. Di belakang rumah adat terdapat hutan yang dikeramatkan, siapapun tak boleh masuk, menebang atau hanya mengambil ranting. Semacam konsep hutan lindung.

Selain bertani, penduduk kampung naga juga membuat kerajinan yang terbuat dari anyaman bambu.








Note:
Kampung Naga sebenarnya bukan tempat Wisata (lebih tepat disebut Kampung Adat) sehingga lebih baik ditemani oleh Pemandu yang telah diorganisasi rapi oleh warga dengan upah sukarela, mengingat adat kebiasaan yang berbeda dengan kita yang harus kita hormati karena kita disana sebagai tamu.
Membeli oleh-oleh saya sarankan bukan di area parkir tetapi langsung saja di komplek kampung Naga (dekat masjid yang ada lapangannya di tengah kampung ini) karena harganya lebih murah dan terkesan asli.

Komentar

Komunitas Tegal mengatakan…
tempatnya dimana mas ?
Tunggulwulung mengatakan…
susuri aja jalan raya garut-tasikmalaya, kira-kira 21km, nanti ada di sebelah kiri, ada patung kujang
Komunitas Tegal mengatakan…
pengin sih mas kesana, tapi begitu baca detailnya musti menuruni 440 anak tangga gak masalah, baliknya kan berarti musti naik 440 anak tangga juga mas, kira kira berapa lantai ya, kalau di Madya he he he
Tunggulwulung mengatakan…
o tangganya pendek-pendek kok, jadi enak melangkahnya..dan begitu sampai di bawah terbayar semua kerna keunikan dan keindahan kampung adat ini
Anonim mengatakan…
sangat menarik, terima kasih
gedang goreng mengatakan…
pemandune mbayar piro
Tunggulwulung mengatakan…
seikhlasnya mas gedang,,,koperasi setempat tidak mematok harga
egha temenmpopo mengatakan…
mas dan mbak mohon bantuanya

https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dDA3NlN2ZzdHU2xLSG4zV1oxU3Z6b1E6MQ

terima kasih banyak

Postingan populer dari blog ini

Pemandian Dayang Sumbi di Tangkuban Parahu

Batik Tulis Sukaraja, Tasikmalaya

GUNUNG CIKURAY NEGERI PARA BIDADARI