Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cultural heritage

Solo di Waktu Malam Hari

thanks for reading,  Solo di waktu malam hari, Merempak menarik hati sunyi; Banyak tempat penghiburan asri, Pandangan mata berganti;  begitu selarik lagu keroncong karya R Maladi yang melegenda.  Punya waktu terbatas, tapi ingin menikmati Solo, berikut sarannya: Istana Kasunanan di malam hari. Istana penerus Kesultanan Mataram (Islam) konon diarsiteki oleh Pangeran Mangkubumi (kelak bertahta sebagai Raja Yogyakarta). Di malam hari, istana tempat Pakubuwono jumeneng ini tampak glowing kebiru-biruan. Apalagi setelah turun hujan, pantulan cahaya lampu di jalanan yang basah menambah suasana adem. Angkringan Pandawa Tempatnya di dalam gang, jadi parkir perlu berpikir. Bangunannya semi kuno, tegel kuno, dinding dihias poto-poto dan barang seni. Dominasi warna cyan (hijau ke birubiruan). Tempat asik buat ngobrol di malam hari sambil ngopi jos, teh panas legi kenthel, ngemil jadah. Sego Liwet Seantero solo, banyak sego liwet dari yang legendaris sampai yang tidak begitu terkenal...

Surati, Pahlawan Perempuan Dari Tulangan

Ilustrasi Pabrik Gula, Abraham Salm Virus Corona Novel (Covid-19) sedang ramai di media, jadi teringat kisah pandemi yang diabadikan roman Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Diceritakan bahwa dulu tahun 1900an di Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur terdapat pabrik gula yang dipimpin tuan besar kuasa administratur bernama Frits Humerus Vlekkenbaaij. Penduduk sekitar pabrik melafalkannya sebagai Plikemboh. Orangnya gemuk, botak, pipi menggantung, berbulu, licik dan berkuasa. Bahkan kabarnya Gubernur Jenderal saja kalah besaran gajinya dibanding Plikemboh. Anak kecil melihat dia bisa kena sawan. Intinya bagi penduduk kalau bisa jangan sampai berpapasan dengan orang ini. Paiman (anak Sastrotomo dahulu juru tulis pabrik itu; kakak Sanikem/nyai Ontosoroh) bekerja di pabrik itu sebagai kasir, sehingga masyarakat memanggilnya Sastro Kassier. Jabatan mentereng untuk pribumi waktu itu. Paiman punya anak perempuan beranjak dewasa bernama Surati. Dasar sial, Plikemboh menge...

Siapa Sebenarnya Minke Bumi Manusia

Ilustrasi: wikipedia Agustus 2019 yang lalu sebuah novel epik karya Pramudya Ananta Toer diangkat ke layar lebar oleh Falcon Picture dengan judul yang sama, Bumi Manusia .  Novel ini merupakan bagian pertama dari empat buku tetralogi pulau buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca . Novel berseting utama di Surabaya menjelang tahun 1900. Tokoh utamanya sebagai penutur Aku dalam buku pertama sampai dengan buku ketiga, memakai nama samaran Minke (dibaca:Mingke). Siapa sebenarnya Minke? Orang memanggil aku:Minke. Namaku sendiri ... . Sementara ini tak perlu kusebutkan ( Bumi Manusia , hal 9). Selanjutnya disebutkan dia adalah murid H.B.S di Surabaya sekitar tahun 1898, anak seorang Bupati kabupaten B. Selalu bersepatu dan berpakaian eropa. Mengaku lebih muda satu tahun daripada RA Kartini. Di buku kedua: Anak Semua Bangsa , Minke mengisahkan dirinya akan bersekolah di STOVIA sebuah sekolah dokter Jawa di Batavia yang mewajibkan siswa calon dokter...

Akhir Kisah Hidup Tokoh Film Bumi Manusia

Bumi Manusia, roman karya Pramudya Ananta Toer, merupakan bagian pertama dalam empat novel seri Pulau Buru- Bumi Manusia - Anak Semua Bangsa - Jejak Langkah - Rumah Kaca. Sebuah novel berseting tahun 1898 tentang pertemuan budaya-politik antara negeri jajahan dengan negeri induknya. Tokoh utama digambarkan seorang lelaki muda pribumi yang dididik secara eropa dan mengaguminya kemudian menghadapi kenyataan bahwa negeri terjajah selalu berada pada posisi teraniaya. Sehingga melawan melalui tulisan di koran yang akhirnya merangsang tokoh nasionalisme lainnya menuju pergerakan pra-kemerdekaan Indonesia.  Tahun 2019 Roman ini diangkat ke layar lebar oleh Falcon Picture, disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Minke Tokoh utama, setelah kembali dari pembuangan dari Maluku menghadapi kenyataan bahwa seluruh hartanya termasuk kantor koran di Jalan Naripan Bandung, hotel di kawasan Jalan Kramat Raya, toko alat tulis/kantor di Kwitang Jakarta, rumah tinggal di dekat Kebun Raya Bogo...

Istana Ratu Boko

Terletak di perbatasan Jogja-Solo, tepatnya di tenggara adik sepupunya yang lebih terkenal, Candi Prambanan. Bagiku inilah candi paling indah arsitekturnya. Lihatlah Gapuranya itu. Meski dibangun jauh sebelum rotring ditemukan, tetapi gaya arsitek dan presisinya sangat baik, indah malah. Dibangun sekitar abad 8 Masehi oleh Rakai Panangkaran dari dinasti Syailendra. Konon nama Ratu Boko diambil dari Bangau yang sering hinggap di kawasan ini yang saat itu (di tahun 1790an) ditemukan sebagai reruntuhan purbakalan. Boko artinya bangau. Aktifitas yang dapat dilakukan: photo saat sunset, matahari terbenam di sela-sela gapura. thanks for reading,

Kearifan Kampung Naga

Kampung Naga terletak di tepi jalan Tasikmalaya - Garut, tepatnya di desa Neglasari, Kecamatan Salawu. Menghuni areal seluas 1,5 hektare di tepi kali Ciwulan yang memiliki hulu di gunung Cikuray . Menurut mang Cahyan, pemandu asli kelahiran kampung Naga, kampung ini memiliki pemimpin baik formal maupun informal. Kalau formal ada ketua RT, nah kalau informal (adat) ada Kuncen . Untuk menuju kampung Naga mulanya kita menuruni anak tangga berjumlah 440 dan di sinilah akhir jaringan listrik, karena penduduk kampung ini mempertahankan tidak memakai energi Listrik.  Saat ini memiliki 113 rumah adat. Rumah adat umumnya rumah panggung terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Rumah umumnya terbagi menjadi empat bagian yaitu Dapur (dengan pintu berornamen anyaman bambu), ruang tamu (dengan pintu kayu, terkadang ada kacanya), ruang keluarga dan pabeasan (ruang menyimpan padi). Atap rumah terdiri

Batik Tulis Sukaraja, Tasikmalaya

Tasikmalaya yang selama ini dikenal sebagai penghasil kain Bordir, ternyata juga menyimpan ragam batik tulis asli.  Tepatnya di daerah Pasar Kolot, Sukaraja. Berbekal informasi dari peta Wisata Tasikmalaya di hotel, Kampung Batik Sukaraja  terletak 17 km arah selatan Tasik, maka sore ini mencoba berburu batik. Menyusuri Jalan Perintis Kemerdekaan lurus ke arah selatan, penanda jarak di GPS telah melampaui 20 km, tapi yang namanya Pasar Kolot belum juga ketemu. Memang sangat disayangkan, sepanjang jalan menuju Pasar Kolot, tak satupun ditemukan plang nama, petunjuk arah, atau pengumuman apapun yang menunjukkan dimana  Kampung Batik tulis ini berada. Lokasinya masih tersembunyi. Berbekal informasi dari POM bensin entah dimana, akhirnya ketemu juga yang namanya Pasar Kolot, belok kanan dari Masjid Kaum.