Langsung ke konten utama

Postingan

Pangandaran Beach is simply beautiful

Subuh Pantai Timur Subuh kupaksakan bangun, mengumpul-ngumpulkan nyawa, demi melihat dewa matahari datang di pantai timur pangandaran.  Itulah akibatnya nyetir sehari sebelum lebaran. Macet dimana-mana, akhirnya harus belanja waktu lebih banyak. Dan sialnya, awan tak mengijinkanku melihat benda bulat terang ini bangun pagi. Memang September ini awan terus nongkrong di atas sana, bahkan seharian gerimis diselingi hujan deras. Tapi tak mengapa, aku cukup puas dengan pantulan biru di sela-sela perahu nelayan.  Pangandaran pagi itu masih lengang, hanya beberapa pecinta pantai duduk-duduk di anjungan, bau tengik sisa-sisa ikan khas pantai tak mereka hiraukan. Anjungan tampak kokoh ditumbuhi teritip di kaki-kakinya. Beranjak pagi mulailah dewa matahari menampakkan wajahnya, jingga, tetapi malu-malu dibalik tirai awan.

Pesona Bali Garden Taman Bunga Nusantara

Kali ini lagi pengin lihat bunga. Lho kok? Tadinya agak risih, tapi omong-omong soal bunga, bukan konsumsi kaum feminim aja. Di Belanda misalnya, wisata Tulip Garden (Keukenhoff) digadang-gadang masuk sebagai salah satu the most to do list jika ke sana, ditonton  segala kalangan, itupun gak buka di tiap bulan (tergantung musim), cuma April - Mei.  Nah, di Indonesia ini kan bunga ada sepanjang  tahun sepanjang musim, kenapa gak dimasukkan dalam t he most to do list untuk wisatawan? Saya tidak meminta maaf untuk pernyataan berbau nasionalisme ini, maklum ini kan Agustus.  

Papandayan Edelweis Garden

Sabtu ini, pagi buta sudah berada di terminal Guntur, Garut, belum apa-apa sudah kedinginan. Tegal Alun Angin dingin seperti tak menghormati jaket yang kupakai.  Setelah makan kepagian dan s empat numpang tidur di warung sate, kami lanjut ke pertigaan kec Cisurupan yang ada plang Gunung Papandayan dengan angkot. Lalu perjalanan menuju Base Camp Papandayan menggunakan mobil bak terbuka angkutan sayur. Sepanjang jalan menuju base camp , kiri kanan adalah rumah penduduk yang diselingi tanaman menjalar Labusiam, pisang dan lagi-lagi daun melambai yang selalu meledekku, Oloracea brassica sialan itu. Base Camp pagi itu masih sepi, semua warung tutup, hanya ada 1 orang staff Tourist Information yang berjaga.  Kata penduduk setempat Papandayan berasal dari kata Panday artinya perajin tempa besi. Konon dulu menurut cerita turun temurun, di gunung ini sering terdengar dentingan logam seperti empu sedang menempa besi, sehingga penduduk memberinya nama Papandayan.

Nyangsang di Subang

Sabtu 3 Juli 2010, lagi enak-enak bengong depan TV tiba-tiba sekelebat melintas bayangan putih-putih, semampai, gelantungan. Bukan Kuntilanak, bukan, tapi Peuyeum. Tape khas jawa barat. Kebetulan di meja ada Atlas SD anakku, buka acak, eh ketemu kota Subang. Yo wis..daripada mati gaya, start bertiga ke sana.  Sengaja lewat Tol Cikampek mentok ke kanan, karena sebelas tahun lalu pernah lewat sini masih ada hutan jati. Tapi sekarang kiri kanan belasan restoran. Sampai di perempatan ambil kiri ke arah Subang. Dan benar, sepanjang jalan menuju Subang, di kiri kanan jalan bergelantungan si putih semampai ini. Jalan terus ketemulah perkebunan karet, pohonnya miring-miring mengikuti arah angin.   Ngubek-ubek dalam kota Subang, unik, kotanya cukup kecil dan bersih. 

Pecicilan di Gunung Gede

Seneng rasanya sudah dua tahun BMI bertahan di bawah 23, setelah bertahun-tahun berkutat di angka 32. Jadi inget April 2002 yang lalu, saat  lagi gemuk-gemuknya, eh..pecicilan pakai naik gunung segala. Karena terbujuk hasutan sesat dua teman, akhirnya aku ikutan naik gunung Gede.  *** Gunung Gede mengangkang antara Kab Cianjur-Kab Sukabumi. Kami bertiga naik lewat taman nasional Cibodas. Waktu itu April, hujan sedang rajin-rajinnya mengguyur bumi Siliwangi. Dengan tinggi 2.958 mdpl, Gede tercacat sebagai gunung ketiga tertinggi di tlatah Pajajaran.

Ketiban Duren di Sydney

[OOB dikit, Out Of Blog. gapapa ya] Setelah blingsatan kesana kemari dari siang sampai pagi, kira-kira jam 02.00 waktu setempat di depan Harbour Plaza , karena sudah tak ada angkutan umum, terpaksa deh cari taksi. "Drive me to Intercontinental hotel, near Harbor Bridge, you know." kataku tergagap meng english kan lidah. Belum selesai mengatur duduk di bangku belakang, terdengar si sopir menyahut dengan logat medok yang kedengarannya familiar di telingaku. "O..Interkontinental nggih, monggo mas." "What!"  Di belantara Metropolitan Sydney ini, ironi pertama kutemui, ternyata aku malah bertemu orang jawa. Dan benar, pak Sopir aseli Temangung. **** Kalau gak dibayari sama perusahaan MLM tertua dan terbesar, mesti mikir sebelas kali nginep di Intercontinental Sydney, bintang lima, semalam USD 245, lima hari lagi. Thanks God!  Jakarta-Sydney dengan Qantas QF42, ehm enak banget karena ada wine di udara.  "Do you rather choose red or white, Sir?" ...

Mencicip misterious road sampai kubah lava Kelud

Kelud (kadang Kelut) dalam bahasa setempat berarti menyapu /  membersihkan tempat tidur dengan kebyok (semacam sapu lidi). Maka nama gunung Kelud sangat sesuai mengingat reputasinya pernah menyapu pemukiman penduduk pada letusannya atau banjir lahar dingin.   Misterious Road , begitu bunyi papan pengumuman mencoba menarik perhatian pengunjung di trek menuju kawah gunung Kelud. Misterious road adalah fenomena anti gravitasi, jalanan tampak menurun (sebelum pembatas jalan) tetapi anehnya mobil justru berjalan mundur (naik). Ada yang berteori disebabkan pengaruh medan magnet aneh di gunung kutukan Lembu Sura ini, tetapi ada juga yang menjelaskan bahwa fenomena ini hanyalah ilusi optik belaka.